Tidak lari dari panggilan

Saat teduh pagi ini, sungguh sangat menyentak. Karena sekaligus menyentil dan menjawab kegalauanku selama beberapa bulan ini.

“Sampai sekarang saya tidak menemukan alasan untuk berhenti melayani mereka yang terpinggirkan. Pilihan hidup saya mungkin tidak terlihat berkelimpahan, tetapi saya menemukan bahwa dalam segala hal Tuhan mencukupkan. Saya tidak mau seperti Yunus, harus disentil dulu sama Tuhan untuk mau melayani. Daripada capek berlari dari panggilan Tuhan, lebih baik saya setia saja biar tidak perlu disentil. Toh, tidak ada alasan untuk berhenti.”

Begitu kata-kata Benyamin Lumy, seorang hamba Tuhan yang dipakai untuk melayani orang-orang terpinggirkan, orang-orang miskin.  Seorang yang sangat berdedikasi, tahu panggilannya dan melakukannya dengan sepenuh hati.

Apa hubungannya denganku? Begini… beberapa bulan terakhir ini, perusahaan tempat ku bekerja, tepatnya divisi dimana aku bekerja mengalami kekalahan tender dalam proyek operator yang kami tangani, sehingga semua orang-orang yang terlibat dalam proyek tersebut harus dipindah-pindah ke bagian lain, atau ditransfer ke perusahaan pemenang tender tersebut, atau malah ada juga yang ditawarkan program PHK.

Kebetulan aku kebagian yang dipindahkan ke divisi lain yang menurutku beban pekerjaannya lebih berat. Tidak senyaman sekarang dalam ritme kerja. Mulailah penyakit lama itu kumat… kekhawatiran kalau nanti tidak akan nyaman, keinginan untuk mencoba mencari penghidupan di negeri orang pun terbersit kembali.

Namun Firman Tuhan pagi ini menyadarkan aku, dan mengingatkan aku, sudah beberapa kali di waktu lalu aku mencoba untuk meloncat ke perusahaan kompetitor kantorku, namun tidak berhasil,  bahkan terbersit keinginan untuk mencari peruntungan ke negeri orang, mengeruk dollar sebagaimana yang dilakukan rekan-rekanku lebih dulu. Namun menurutku waktunya belum tepat. Karena berulang kali aku disadarkan, that  this company where I belong to, di perusahaan ini aku bisa nyicil rumah, beli mobil, beli gadget, beli kamera, training ke luar negeri… dan utamanya membantu saudara-saudaraku yang kekurangan.

Ah betapa piciknya aku… selama ini aku selalu melihat ke atas.. gak pernah nyadar bahwa kesempatan yang kupegang sekarang ini adalah kesempatan terbaik yang pernah Tuhan berikan kepadaku. Dan begitulah sifat manusia, selalu tidak merasa cukup, meskipun diberi rejeki berlebih. Ketika aku melihat kesamping bahkan ke bawah.. ternyata masih banyak orang-orang yang kukenal hidup dalam kekurangan.

Tuhan, maafkan aku, aku tidak akan mencoba untuk lari ke “Tarsis” lagi, tapi aku akan tetap bertahan di “Niniwe”, dimana Engkau tetapkan aku untuk tinggal dan berbuah, dan bahkan memberi dampak. Please use me God, as You can use anything.

Jakarta, R.S. Harapan Kita, menunggu istri yang lagi ujian masuk spesialis…

Nov 14 2010

Ref: http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2010/11/14/#SABDAweb

Pos ini dipublikasikan di Life. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s